Minggu, 15 Maret 2009

PROSA LIRIS

ANAK
DAN seorang perempuan yang menggendong bayi dalam dekapan dadanya berkata, Bicaralah pada kami perihal Anak. Dan dia berkata: Anakmu bukanlah anakmu. Mereka putra-putri kehidupan yang rindu akan dirinya sendiri. Mereka datang melalui engkau tapi bukan dari engkau, Dan walau mereka ada bersamamu tapi mereka bukan kepunyaanmu. Kau dapat memberi mereka cinta-kasihmu tapi tidak pikiranmu, Sebab mereka memiliki pikirannya sendiri. Kaubisa merumahkan tubuhnya tapi tidak jiwanya, Sebab jiwa mereka bermukim di rumah masa depan, yang tiada dapat kausambangi, bahkan tidak dalam impian-impianmu. Kauboleh berusaha menjadi seumpama mereka, tapi jangan berusaha membuat mereka seperti dirimu. Sebab kehidupan tiada surut ke belakang, pun tiada tinggal bersama hari kemarin. Engkaulah busur dan anak-anakmulah anak panah yang meluncur. Sang Pemanah membidik tanda sasaran di atas jalan nan tiada terhingga, dan Dia menekukkan engkau dengan kekuasaan-Nya agar anak panah-Nya dapat melesat cepat dan jauh. Meliuklah dengan riang di tangan Sang Pemanah. Sebab sebagaimana Dia mengasihi anak panah yang melesat, demikian pula Dia mengasihi busur nan mantap.



cerpen hari ini

Put, Jangan Menangis
Setiba di sekolah, sudah banyak anak yang bergerombol di SD Warga. Sambil masih membawa tas ransel di punggung, Ajeng dan Puput bergegas. “Put…ayo cepat sebentar lagi perlombaannya dimulai lho. Cepat taruh dulu tasmu sana !!”, seru Sabrina dari balik gerombolan teman-temannya. “Iya.”, jawab Puput.
Sementara Puput dan Ajeng meletakkan tas, Bu Dina mulai memanggil nama
murid-murid satu per satu. Setelah memberikan sedikit penjelasan tentang peraturan lomba, terdengar koor panjang dari barisan anak-anak.
“Mengerti Buuu….”.
“Baik, giliran pertama yaitu Risa, Amdan, Vira, dan Aan. Bagi anak-anak yang belum dipanggil tetap berbaris rapi dan terus memberi semangat ya ?”, jelas Bu Luluk.
“Siaapp, satu …dua….tiga…”.
Priiit….peluit panjang dibunyikan tanda anak- anak mulai berlomba membawa
kelereng. Semua anak bersorak-sorak tak terkecuali para orang tua yang menunggu anak-anaknya di balik pagar sekolah pun ikut antusias memberikan dukungan. “Ayo….ayo…ayo…”, teriak para penonton. Tak lama kemudian terdengar koor panjang. “Horeee….”, rupanya pertandingan pertama ini dimenangkan oleh Vira dan semua penonton bersorak-sorak.
Dari balik barisan murid kelas IV, Puput tampak antusias melihat perlombaan. Kali ini dia ingin memenangkan perlombaan. Sementara di barisan murid kela IV juga tampak Ajeng yang bersemangat bersorak-sorak memberi dukungan teman-temannya yang berlomba.
Setelah beberapa menit perlombaan berlangsung, terdengar suara Bu Dina lantang, ” Untuk perlombaan terakhir, kita beri dukungan untuk Puput, Ajeng, Sabrina, dan Odet”. Kemudian, “Ayo….ayo…ayo….”, suara penonton mulai membahana lagi lebih kencang. Ini adalah kelompok terakhir yang bertanding sekaligus penentu kelas mana yang akan memenangkan perlombaan kelereng tahun ini.
Para peserta lomba tampak serius dengan kelerengnya masing-masing. Ajeng terus menguntit di belakang Puput sambil sesekali melirik lawannya itu. Sementara, lawan-lawannya yang lain tergopoh-gopoh dan hampir jatuh kelerengnya karena terburu ingin mencapai finish. Teriakan-teriakan penonton makin keras ketika hampir mendekati garis finish.
Ya…kurang sedikit lagi mereka akan melewati garis finish. Tapi…ups, kelereng Ajeng terjatuh tertabrak tubuh Odet yang sempat limbung. “Aduhh !!”, teriaknya kaget. Cepat-cepat ia mengambil kelerengnya yang jatuh dan berdiri sambil agak sedikit mempercepat langkahnya, berharap bisa membalas Odet. Dengan tubuhnya yang masih agak limbung ia mencari kaki Odet untuk diinjak. “Nah, itu dia kaki Odet. Sebentar lagi akan kuinjak biar dia jatuh”, gumamnya. Satu, dua, tiga dan…..”Adoouuww…..”, teriakan kencang dari arah peserta lomba. Tentu saja konsentrasi peserta yang lain ikut terpecah. Mereka saling lirik melihat apakah ada lagi lawan yang kelerengnya jatuh. Namun dengan tak acuhnya Ajeng tetap melenggang sampai garis finish. Sorak sorai penonton pun mengiringi langkahnya hingga mendekati garis finish.
Tiga….dua….satu……
“Horee….Ajeng menaaanggg…..”, teriak barisan kelas IV B. Para penonton ikut bertepuk tangan melihat akhir perlombaan yang menegangkan ini. “Baiklah anak-anak, perlombaan kelereng hari ini usai sudah. Hasil yang diperoleh untuk perlombaan kali dimenangkan oleh kelas IV B. Besok masih ada perlombaan lagi”, penjelasan Bu Luluk menenangkan hati anak-anak. “Bu, sekarang boleh pulang bu?”, tanya Nanda penuh semangat. “Iya, anak-anak sekarang masuk kelas dulu, ya. Ambil tasnya masing-masing, berdoa bersama-sama kemudian pulang. Jangan lupa besok masih tetap masuk seperti biasa dan masih ada perlombaan yang lebih menarik”.
Sementara anak-anak yang lain berebut ingin pulang, di sudut taman Puput meringis-ringis sendirian sambil memegangi kakinya. Melihat hal itu Ajeng pun berlari mendekati Puput. “Put, kamu kenapa duduk di situ sendirian? Nggak pulang?”, tanya Ajeng penasaran. “Uhuk ..uhuk..huuu..huu…huu.…”, tiba-tiba Puput menangis. “Kok nangis? Puput kenapa? kakinya sakit ya?”, tanya Ajeng sambil mengusap-usap bahu Puput. “Uhuk…iya. Kakiku sakit terinjak waktu ikut lomba kelereng tadi. Kakiku sakit tapi nggak berdarah”, jawabnya sambil meringis menahan sakit. “Terinjak waktu lomba?? Memangnya kamu tah yang pakai sepatu merah tadi?”, tanya Ajeng harap-harap cemas. Sempat tergambar di benak Ajeng kalau jangan-jangan dia tadi salah menginjak kaki Puput bukannya kaki Odet. “Sepatu merah tadi yang pakai Odet kan, bukan Puput?”, tegas Ajeng sekali lagi. “Iya, sepatu merah itu aku yang pakai. Tadi aku dan Odet bertukar sepatu, soalnya aku mau mencoba sepatu baru Odet... Memangnya kenapa?”, jawab Puput yang sudah reda tangisnya. “Oh nggak apa-apa. Ayo kita pulang sekarang. Nanti kita dicari mama”, ajak Ajeng buru-buru. “Ayo”.
Sewaktu pulang sama-sama dengan Puput, perasaan Ajeng mulai tak enak. Dia merasa bersalah karena ternyata tadi dia salah menginjak kaki Puput. Sebenarnya dia ingin minta maaf, tapi rasanya malu juga kalau Puput tahu siapa yang sudah membuat kakinya sakit tadi. Duh, kalau saja tadi Ajeng tak ingin melakukan balas dendam segala, pasti dia tak akan merasa bersalah seperti ini, sesalnya dalam hati. Apalagi saat mereka harus berpisah di jalan karena Puput sudah sampai di rumahnya lebih dulu, tak seperti biasanya Puput tak memberi salam maupun senyuman pada Ajeng. Wajah Puput masih tampak cemberut dan kelihatan menahan sakit di kakinya.
Sesampainya di rumah, Ajeng tampak loyo dan tak mau makan. Tentu saja Bunda mulai bertanya-tanya, “Ada apa gerangan anak Bunda kok tiba-tiba tak mau makan dan loyo seperti ini?”. , Ajeng hanya menjawab, “Ajeng males makan, Bunda. Ajeng mau tidur saja”. Ajeng pun langsung beranjak ke tempat tidurnya dan tertidur pulas.
Entah dari mana asalnya, Ajeng bertemu dengan Puput di rumahnya. Dengan masih memakai rok seragamnya, Puput menangis merintih-rintih kesakitan. Ajeng cuma bisa terdiam melihatnya menangis. “Ajeng, kamu tahu nggak siapa yang menginjak kakiku tadi?”. “Mmm…sebenarnya…sebenarnya....yang menginjak kakimu tadi aku, Put. Maafkan aku, ya Put. Aku benar-benar menyesal. Aku nggak akan mengulangi kesalahanku lagi”, sesal Ajeng. “Iya, aku maafkan”, jawab Puput sambil memeluk Ajeng. “Terima kasih Put, tapi kamu jangan menangis lagi ya, Put. Aku sedih lihat kamu menangis. Huuu…huu…huu…..”, tangis Ajeng makin kencang.
Kemudian, terdengar suara Bunda bergumam pelan, “Jeng… Ajeng… bangun... kenapa menangis? Ajeng….”. Mata Ajeng pun pelan-pelan terbuka, sambil sesekali mencari-cari Puput. Tapi, sekarang ia tak lagi sedang bersama Puput karena yang terlihat di sekelilingnya hanyalah kamarnya yang bercat putih dan Bunda yang sedang kebingungan menenangkan tangis Ajeng. Ohhh…ternyata Ajeng tadi cuma mimpi.
Meski hanya sekedar mimpi, tapi cukup melegakan hati Ajeng. Ajeng yakin Puput pasti mau memafkannya jika ia minta maaf daripada dia terus berbohong. Ia berjanji tak akan berbuat curang lagi. Besok pagi-pagi Ajeng akan minta maaf jika bertemu dengan Puput dan mengakui kesalahannya. Oh iya, tak lupa ia juga akan membagi hadiah kemenangannya dengan Puput sebagai tanda bahwa dia sayang pada temannya itu. “Jadi, nggak sabar rasanya menunggu waktu bertemu dengan Puput besok pagi”, gumamnya lirih.

Rabu, 04 Maret 2009

cerita lucu

Kenapa Kamu Tidak sikat Gigi ?

“Selamat pagi, Bu Guru!”
Kali ini Lula tersenyum, anak-anak didiknya sudah menyebut kata yang benar untuk sapaan pagi ini. Tetapi kemudian ia mengingatan pada dirinya sendiri agar jangan berbangga hati untuk usahanya mematahkan filosopi Ibu Nonik, karena saat ini memang masih jam setengah delapan pagi.
“Selamat pagi, Anak-anak!” jawab Lula. Ia meletakan tas di meja guru, setelah mengeluarkan sebuah sikat gigi kemudian berjalan menuju depan papan tulis. “Nah, hari ini hari apa, Anak-anak?”
“Hari Selasa, Bu Guru!” jawab murid-muridnya serentak.Lula mengangguk. “Iya, hari Selasa. Jadi sekarang adalah waktunya untuk…” ia mengangkat sikat giginya, “… pemeriksaan gigi!”
Gejala yang tidak menyenangkan. Beberapa muridnya menelan ludah dan lirik kanan-kiri. Beberapa lainnya langsung menggelembungkan pipinya, berkumur dengan air liur yang tersedia di dalam mulutnya sementara lidahnya bergerak cepat untuk menggosok gigi. Anak-anak golongan terakhir inilah target utama Lula.
“Baik, sekarang buka mulut kalian. Tunjukan gigi kalian pada Ibu Guru!” ujar Lula sambil berjalan ke arah meja barisan pertama di deret paling kiri. “Kita lihat apakah kalian sudah sikat gigi atau belum, bagi yang belum akan ibu sikat sendiri disini.”
Lula tiba di meja itu, anak yang duduk disana berjengit, tanpa sedikitpun membuka mulutnya. Salah satunya Dodi, si Bengal yang kemarin sempat hendak menyogoknya. Lula juga teringat kejadian siangnya, ketika ia melaporkan kejadian itu pada ibu Dodi, yang malah tertawa terbahak-bahak mendengar kecerdikan anaknya.
“Kadek, coba buka mulutmu!” kata Lula pada anak di sebelah Dodi.
Kadek masih cengar-cengir beberapa saat. Ia sepertinya enggan membuka mulut, malah melirik-lirik Dodi di sebelahnya.
“Kamu belum sikat gigi?” Tanya Lula.
Kadek menggeleng.
“Kenapa tidak sikat gigi?”
Kadek masih saja berjengit.
“Mau Ibu sikatin?” kata Lula sambil mengangkat sikat giginya.
Kadek menggeleng. “Enggak, Bu,” jawabnya dengan suara berat karena tertahan. “Saya tidak sikat gigi, karena saya…” lanjutnya kemudian sambil membuka mulutnya lebar-lebar.
“..saya tidak punya gigi, Bu!”
Lula melongo memandang gusi bagian depan Kadek. sama sekali tidak ada lapisan email putih disana, hanya kosong, karena anak itu ternyata ompong. Lula menutup mulut, lalu berbalik memunggungi anak-anaknya untuk melepaskan tawanya.

Minggu, 22 Februari 2009

PUISI

BEL

Berdentang tiga kali
berdoa
pulanglah aku
karena perutku
menunggu sesuatu

Atza

Surat dari anak

buat mamah dan papah

aku senang sama papah dan mamah
mamah hamil dan papah kerja
papah yari uwang
papah dan mama mamah suka pergi
mamah dan papah suka Belan ja Ben Belanja
papah sekarang kerja
mamh mamah mandi
mamah dan papah sayang pada shadra dan yang lain lain

Tata

YESUS PEBIMBINGKU




Ada yang tersembunyi terasa tak terlupakan, ada yang kucari padamu satu harapan