Kenapa Kamu Tidak sikat Gigi ?
“Selamat pagi, Bu Guru!”
Kali ini Lula tersenyum, anak-anak didiknya sudah menyebut kata yang benar untuk sapaan pagi ini. Tetapi kemudian ia mengingatan pada dirinya sendiri agar jangan berbangga hati untuk usahanya mematahkan filosopi Ibu Nonik, karena saat ini memang masih jam setengah delapan pagi.
“Selamat pagi, Anak-anak!” jawab Lula. Ia meletakan tas di meja guru, setelah mengeluarkan sebuah sikat gigi kemudian berjalan menuju depan papan tulis. “Nah, hari ini hari apa, Anak-anak?”
“Hari Selasa, Bu Guru!” jawab murid-muridnya serentak.Lula mengangguk. “Iya, hari Selasa. Jadi sekarang adalah waktunya untuk…” ia mengangkat sikat giginya, “… pemeriksaan gigi!”
Gejala yang tidak menyenangkan. Beberapa muridnya menelan ludah dan lirik kanan-kiri. Beberapa lainnya langsung menggelembungkan pipinya, berkumur dengan air liur yang tersedia di dalam mulutnya sementara lidahnya bergerak cepat untuk menggosok gigi. Anak-anak golongan terakhir inilah target utama Lula.
“Baik, sekarang buka mulut kalian. Tunjukan gigi kalian pada Ibu Guru!” ujar Lula sambil berjalan ke arah meja barisan pertama di deret paling kiri. “Kita lihat apakah kalian sudah sikat gigi atau belum, bagi yang belum akan ibu sikat sendiri disini.”
Lula tiba di meja itu, anak yang duduk disana berjengit, tanpa sedikitpun membuka mulutnya. Salah satunya Dodi, si Bengal yang kemarin sempat hendak menyogoknya. Lula juga teringat kejadian siangnya, ketika ia melaporkan kejadian itu pada ibu Dodi, yang malah tertawa terbahak-bahak mendengar kecerdikan anaknya.
“Kadek, coba buka mulutmu!” kata Lula pada anak di sebelah Dodi.
Kadek masih cengar-cengir beberapa saat. Ia sepertinya enggan membuka mulut, malah melirik-lirik Dodi di sebelahnya.
“Kamu belum sikat gigi?” Tanya Lula.
Kadek menggeleng.
“Kenapa tidak sikat gigi?”
Kadek masih saja berjengit.
“Mau Ibu sikatin?” kata Lula sambil mengangkat sikat giginya.
Kadek menggeleng. “Enggak, Bu,” jawabnya dengan suara berat karena tertahan. “Saya tidak sikat gigi, karena saya…” lanjutnya kemudian sambil membuka mulutnya lebar-lebar.
“..saya tidak punya gigi, Bu!”
Lula melongo memandang gusi bagian depan Kadek. sama sekali tidak ada lapisan email putih disana, hanya kosong, karena anak itu ternyata ompong. Lula menutup mulut, lalu berbalik memunggungi anak-anaknya untuk melepaskan tawanya.
“Selamat pagi, Bu Guru!”
Kali ini Lula tersenyum, anak-anak didiknya sudah menyebut kata yang benar untuk sapaan pagi ini. Tetapi kemudian ia mengingatan pada dirinya sendiri agar jangan berbangga hati untuk usahanya mematahkan filosopi Ibu Nonik, karena saat ini memang masih jam setengah delapan pagi.
“Selamat pagi, Anak-anak!” jawab Lula. Ia meletakan tas di meja guru, setelah mengeluarkan sebuah sikat gigi kemudian berjalan menuju depan papan tulis. “Nah, hari ini hari apa, Anak-anak?”
“Hari Selasa, Bu Guru!” jawab murid-muridnya serentak.Lula mengangguk. “Iya, hari Selasa. Jadi sekarang adalah waktunya untuk…” ia mengangkat sikat giginya, “… pemeriksaan gigi!”
Gejala yang tidak menyenangkan. Beberapa muridnya menelan ludah dan lirik kanan-kiri. Beberapa lainnya langsung menggelembungkan pipinya, berkumur dengan air liur yang tersedia di dalam mulutnya sementara lidahnya bergerak cepat untuk menggosok gigi. Anak-anak golongan terakhir inilah target utama Lula.
“Baik, sekarang buka mulut kalian. Tunjukan gigi kalian pada Ibu Guru!” ujar Lula sambil berjalan ke arah meja barisan pertama di deret paling kiri. “Kita lihat apakah kalian sudah sikat gigi atau belum, bagi yang belum akan ibu sikat sendiri disini.”
Lula tiba di meja itu, anak yang duduk disana berjengit, tanpa sedikitpun membuka mulutnya. Salah satunya Dodi, si Bengal yang kemarin sempat hendak menyogoknya. Lula juga teringat kejadian siangnya, ketika ia melaporkan kejadian itu pada ibu Dodi, yang malah tertawa terbahak-bahak mendengar kecerdikan anaknya.
“Kadek, coba buka mulutmu!” kata Lula pada anak di sebelah Dodi.
Kadek masih cengar-cengir beberapa saat. Ia sepertinya enggan membuka mulut, malah melirik-lirik Dodi di sebelahnya.
“Kamu belum sikat gigi?” Tanya Lula.
Kadek menggeleng.
“Kenapa tidak sikat gigi?”
Kadek masih saja berjengit.
“Mau Ibu sikatin?” kata Lula sambil mengangkat sikat giginya.
Kadek menggeleng. “Enggak, Bu,” jawabnya dengan suara berat karena tertahan. “Saya tidak sikat gigi, karena saya…” lanjutnya kemudian sambil membuka mulutnya lebar-lebar.
“..saya tidak punya gigi, Bu!”
Lula melongo memandang gusi bagian depan Kadek. sama sekali tidak ada lapisan email putih disana, hanya kosong, karena anak itu ternyata ompong. Lula menutup mulut, lalu berbalik memunggungi anak-anaknya untuk melepaskan tawanya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar